August 15, 2022

JAWAMEDIANEWS

Media Online Indonesia

Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara Akhirnya Berkumandang di Candi Palah Penataran

 1,889 total views,  2 views today

Blitar, www.jawamedianews.com – Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara akhirnya berkumandang di Candi Palah Penataran, yang merupakan Candi Negara peninggalan Kerajaan Singosari, Kadiri dan Mojopahit. Diikrarkan bersama oleh para pelaku dan pemerhati budaya dari seluruh Bumi Nusantara. di Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Pelaksanaan Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara yang diprakarsai oleh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) dan didukung oleh Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Ki. Kusnadi, S.H., M.Hum., ini diawali dengan prosesi penyatuan tirta suci dan tanah suci sebagai simbol kembalinya kita kepada Budaya Nusantara.

Penasihat LP2BN Romo Pinandito Lukmin, menyampaikan secara khusus kepada www.jawamedianews.com, bahwa sebelum ikrar Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara dilakukan prosesi penyatuan air suci dan tanah suci sebagai simbol untuk meruwat Bumi Nusantara dan untuk menangkal dan menetralisir budaya manca negara yang tidak cocok dengan budaya leluhur yang ada di Nusantara.

 “Pada hari ini dilakukan ikrar Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara yang diawali dengan penyatuan air dan tanah sebagai simbol kembalinya Budaya Nusantara supaya tidak tertindih oleh budaya dari luar. Dan pada malam hari ini juga akan ada Pagelaran Wayang Kulit 3 Dalang dengan lakon “Sang Hyang Ismoyo Mbangun Jiwo”, maknanya membangun jiwa-jiwa masyarakat Nusantara supaya ingat dengan budaya leluhurnya sehingga akan menemukan jati dirinya kembali,” ujar Romo Lukmin.

Ketua LP2BN Ki Aris Sugito, S.H., dalam sambutannya kembali menegaskan bahwa kita jangan sampai menjadi tamu di rumah kita sendiri negeri Nusantara. “Kita harus bangkit untuk menerapkan budaya adi luhung bangsa yang sudah terbukti tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Waktunya kita untuk bangkit, dan menjadi mercusuar dunia,” tegas Ki Aris, Jumat (25/3/22).

Mengamini pernyataan dari Ki Aris Sugito, S.H., Penasehat LP2BN, pelaku dan pemerhati budaya dari Singosari Malang, Ki Djati Kusumo mengatakan bahwa waktunya saat ini Nusantara untuk bangkit.

“Sudah waktunya kita untuk bangkit, seorang tamu harus menghormati tuan rumahnya dan kita sebagai generasi muda harus nguri-uri warisan leluhur baik itu sumber, candi dan kearifan lokal lainnya. Bila Allah SWT itu tidak usah diminta pasti memberi, tetapi kita sebagai generasi muda harus menghormati peninggalan leluhur kita,” tutur Ki DJati.

Adapun Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara yang diikrarkan pada Jumat Kliwon, 25 Maret 2022, di Candi Palah Penataran, adalah :

Kami putra dan putri se Nusantara Indonesia dari semua suku, ras, agama, penghayat kepercayaan, pelaku budaya, ritual, seniman, adat istiadat, disaksikan ibu bumi, bapa angkasa, alam semesta dan Tuhan Maha Pencipta, dengan sikap yang sesempurna-sempurnanya dengan ini bersumpah Trimusthi:

1. Kami putra putri bangsa Nusantara Indonesia dengan semangat turut membangun bangsa memperkokoh persatuan kesatuan wilayah Nusantara Indonesia untuk tetap menjaga keutuhan NKRI dengan Kebinnekaan, menjadi mercusuar dunia.

2. Kami putra putri bangsa Nusantara Indonesia selalu menjunjung tinggi serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan menjalankan UUD 1945 murni dan konsekuen menuju masyarakat yang adil makmur, tata titi, tentrem kerta raharja.

3. Kami putra putri bangsa Nusantara Indonesia selalu menjaga, melindungi, melestarikan nilai-nilai tradisional, adat istiadat, budi pekerti luhur, cagar budaya di masing-masing daerah Nusantara Indonesia, tanpa membedakan antara satu dengan yang lain, serta silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wangi dengan Binneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa.

Candi Palah Blitar, 25 Maret 2022, atas nama bangsa Nusantara Indonesia. 

Disesi akhir acara giat Sumpah Hamusthi Budaya Nusantara, Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Ki. Kusnadi, S.H., M.Hum., menandaskan kembali bahwa budaya merupakan hasil cipta karsa manusia yang pada akhirnya menjadi tradisi-tradisi yang baik.

 “Jadi kita dalam kondisi apapun harus menggunakan perilaku-perilaku dari tradisi kita seperti pada masa pandemi Covid-19 saat ini,” pungkasnya. (Tim Publikasi LP2BN)